PORTAL KAJIAN ISLAM KONTEMPORER: Memadukan Wahyu dan Nalar Sehat Menuju Keseimbangan Hidup. "Banyak orang terjerumus karena menilai kebenaran dari SIAPA yang mengatakan, bukan dari APA yang dikatakan"

Oktober 24, 2017

Hikayat Kucing Berkarakter




Smack down








Saat ditemukan dan dipungut (diadopsi) ia yang masih berumur sekitar 2 bulan tampak sedang duduk lemah di pinggir jalan di depan rumah. Tidak diketahui persis apakah dia tertinggal dari induknya atau dibuang orang. Di tengah kesibukan bekerja, sementara “orang perempuan di rumah” tak begitu menyukai binatang khususnya kucing, ia dibesarkan dan
tumbuh cukup sehat serta kuat. Dalam satu minggu ia membutuhkan pindang ikan “cuwe” sebanyak 2 keranjang kecil masing-masing berisi 2 ekor sebesar 2 kali ukuran ibu jari kaki orang dewasa sebagai lauk. Saat itu harga ikan pindang "cuwe" sebesar Rp350 per kerangjang. Ia diberi makan nasi 2 kali dalam sehari, pagi dan siang. Pada awalnya, ia diberi nama “Bambang”, sebuah nama panggilan yang terlontar begitu saja muncul dari mulut anak laki-laki kedua kami. Entah dari mana inspirasinya. Tapi belakangan ada seorang kawan tetangga RT kadang-kadang datang bertamu ke rumah dan kebetulan nama depannya menggunakan kata “Bambang” menunai sedikit masalah. Pasalnya, pada suatu hari libur tetangga bernama depan "Bambang" itu bertandang ke rumah untuk sekadar berbincang. Tiba-tiba dari dapur terdengar suara memanggil-manggil kucing tersebut dengan suara cukup keras: "Bambang ..bambang...!”, beberapa kali. Sepertinya sedang hendak diberi makan. Padahal kawan tersebut masih bertamu dan duduk di ruang tamu bersama tuan rumah.
Kejadian tersebut sempat membuat perasaan kami menjadi salah tingkah, meskipun hal tersebut tidak disengaja dan diluar perhitungan. Maka untuk menghindari hal yang tak diinginkan, akhirnya diputuskan agar namanya diganti saja dengan menambahkan satu huruf “r”, yakni menjadi “Brambang”. Kebetulan pula kata brambang tersebut mengingatkan teman masa kecil dulu, saat dia berumur tiga tahunan. Dia anak laki-laki dari seorang asisten rumah tangga dari orang tua penulis di kampung halaman. Ia selalu diajak bersama emaknya bekerja di dapur, karena di rumahnya tidak ada orang lain yang dapat disuruh untuk menjaganya. Kami kerapkali menggoda anak tersebut antara lain disuruh menebak nama-nama bumbu dapur. Giliran ditunjukkan sebutir bawang, antara kesal karena digoda bercampur bangga karena merasa tahu, ia pun berteriak kencang menjawab: ”Babang, hayoooo…!!”. Ia memang belum dapat melafalkan kata “brambang’ dengan sempurna.

Brambang hidup mencapai umur lima tahun (1991-1996). Masih tercatat dalam ingatan ketika tanda-tanda keruntuhan rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama tiga dekade itu mulai tampak, demikian pula "Brambang" seperti memperlihatkan tanda tiba ajalnya.




Saat remajanya ia tampak gagah perkasa dengan tampang sedikit lucu dan “macho” layaknya "warok ponorogo". Postur tubuhnya gempal dan atletis dengan kedua lengannya yang kekar dan bulu tubuhnya bersih mengkilap --padahal belum tentu sebulan sekali dimandikan-- benar-benar menggambarkan bak “laki-laki sejati” yang disegani dan ditakuti ras sejenisnya, yang “hegemoninya” meliputi tiga RT. Banyak lawan jenisnya (betina) dibuat takluk gandrung termehek-mehek di bawah jejakan kakinya. Betina yang sudah reyot atau “gluput”, jangan berharap untuk dikencani. Tiap malam selepas magrib ia menjalankan kegiatan rutin, mengelayap mengikuti insting spesiesnya sebagai “jawara”. Kesempatan itu selalu dimanfaatkan untuk membuang kotoran (bab) di luar halaman rumah dan jauh dari lalu lalang manusia. Saat itu masih banyak kebon kosong. Oleh karenanya, alasan istri tidak suka kucing karena bau "beol"-nya jadi kurang relevan lagi.

Brambang tidak suka mengganggu sesama, tetapi kalau ada kucing jantan baru yang belum mengenal reputasinya dan mau mencoba-coba menantangnya, kontan ia labrak tanpa ampun, sehingga si pejantan baru yang sok jago itu "keok" lalu lari tunggang langgang dan tak pernah kembali lagi. Sementara itu, di rumah ia adalah "sosok pribadi" yang tahu diri, tahu budi, hormat, dan tunduk patuh pada “tuannya” yang telah memelihara dan membesarkannya. Hal itu dibuktikan misalnya, ketika digoda dengan “menggilas-gilas” tubuhnya dengan kaki --tentu dengan cara yang tidak akan menyakitinya-- atau “ditarik-tarik” kumisnya yang panjang, bahkan giginya digosok-gosok atau mulutnya diobok-obok dengan jari tangan, ia tidak menampakkan reaksi amarah, paling hanya mengeluarkan suara merengek-rengek seperti minta disudahi. Menurut hemat penulis, itu merupakan salah satu ukuran untuk seekor binatang buas sudah jinak atau belum.

Pagi-pagi subuh biasanya dia pulang setelah puas bermain semalaman. Uniknya, hampir selalu setiap kali pulang ke rumah dari mulutnya mengeluarkan suara cukup keras yang kebetulan secara jelas terdengar menyerupai nama salah satu “tuannya”: “Awaaann…Awannn!!”, berkali-kali. Karena penasaran, pada suatu pagi penulus sengaja mengintip saat berteriak memanggil nama tersebut. Dan ternyata sambil berjalan menuju pulang, mulutnya mengeong seraya mempermainkan lidahnya seperti mengusap gigi dan bibirnya. Demikianlah, meskipun perut terasa lapar, ia tak pernah merengek dan mengeong untuk meminta makan. Ia naik ke atas meja dapur dan hanya duduk bersimpuh di depan istri yang sedang sibuk memasak, sambil kedua matanya merem melek, pasrah. Kadang-kadang tanpa terasa dan disadari ujung ekornya sedikit masuk ke dalam cobek yang berisi sambal uleg.

Salah satu perilaku dan kebiasaan binatang kucing dewasa adalah ia akan bersembunyi dan mengucilkan diri dari “percaturan” dunia kehidupan hewan ketika ia merasa fisiknya sudah melemah karena faktor umur dan mendekati ajal tiba sebagai insting bela diri. Tetapi untuk Brambang tradisi dan insting tersebut rupanya tidak berlaku. Mungkin karena ia merasa dekat dan lebih aman bila pada akhir hidupnya ia berada di tengah keluarga tuannya. Suatu saat selepas magrib tidak seperti biasanya ia pulang dan jalannya tampak lemas dan gontai, seperti ada sesuatu yang dirasakan. Orang-orang di rumah agak sedikit kaget ketika mendapati bercak darah di atas keramik bekas ia terduduk. Setelah diperiksa ternyata darah segar itu mengucur dari bagian kelaminnya. Bak petinju kelas berat versi WBA "Evander Holyfield", tampaknya ia habis berkelahi dan mengalami kekalahan total alias KO. Meskipun telah diberikan pertolongan pertama obat luar dan diberi minum "antalgin" pereda rasa sakit, sayangnya tidak (terpikir) dibawa ke dokter, esok harinya ia pun tewas di tengah kehangatan dan kesaksian keluarga tuannya. Ia seperti menyadari untuk menjalani suratan takdirnya, yakni tunduk pada sunnatullah, bahwa segala sesuatu di dunia pasti rusak dan hancur.


كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan

Al-Qasas 88

Simak Juga:




Posting Komentar