Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Maret 27, 2022
Tuhan Maha Demokratis
Cikal Bakal Demokrasi
Untuk memahami demokrasi secara lebih utuh ada baiknya menyimak kembali secara ringkas sejarah perkembangan demokrasi di dunia. Gagasan demokrasi muncul sejak abad ke-2 sebelum masehi. Saat itu filsuf terkemuka dari Yunani, Aristoteles membagi sistem pemerintahan ke dalam dua penilaian, yakni sistem yang baik dan sistem yang buruk. Penilaian itu lebih didasarkan pada teknis bagaimana pemerintahan itu diperoleh dan dilaksanakan. Menurutnya, demokrasi langsung dinilai bukan sistem pemerintahan yang baik, karena keputusan yang buruk dapat diambil akibat turut sertanya warga yang nirkapasitas. Contohnya, dalam sistem demokrasi yang menerapkan prinsip “one man one vote” keputusan seorang profesor dengan emak-emak tukang gado-gado di dalam bilik suara pada saat pemilihan umum nilainya sama. Lebih lanjut Aristoteles membandingkan antara pemerintahan oleh satu orang dengan bentuk monarki dinilai lebih baik dari pada bentuk tirani. Sementara pemerintahan oleh sedikit orang dengan bentuk aristokrasi berkarakter baik, sedangkan oligarki buruk. Berabad abad sesudah itu demokrasi menghilang hingga muncul kembali pada abad 15 dalam bentuk teori-teori kekuasaan. Pada masa abad pertengahan itu kekuasaan negara yang super kuat dan disokong oleh legitimasi dari gereja dikritik. Lahirlah teori kontrak sosial yang dicetuskan oleh John Locke dan Thomas Hobbes, lalu ada pula teori kekuasaan oleh Voltaire dan J.J.Rosseau. Dalam perkembangannya pada abad berikutnya, seorang tokoh pejuang demokrasi sekaligus presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, menjelaskan tentang pengertian demokrasi. Menurutnya, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Disebutkan bahwa demokrasi menghendaki kebebasan bagi tiap-tiap individu untuk menyampaikan kepentingannya, serta memberikan ruang tanpa kecuali untuk turut menentukan keputusan dalam pemerintahan.
Islam dan Khilafah
Ketika datang Islam sehingga sempat membuat jazirah arab yang gersang dan tandus berubah menjadi pusat kekuasaan dan peradaban dunia, pemerintahan kaum muslim saat itu berbentuk khilafah, kata lain dari monarki di bawah bimbingan atau berlandaskan agama (Islam) atau disebut teokrasi. Dan setelah dunia Islam mengalami kemunduran bahkan keruntuhan, pada medio abad 20 tampil sejumlah pemikir dari kalangan ulama dari Timur Tengah, salah satu di antaranya adalah Dr Hasan Asy Syarqawi yang masih terobsesi romantisme zaman keemasan dan kejayaan khilafah. Dalam bukunya berjudul “Manhaj Ilmiah Islam” (manhaj=metode, pen) ia menjelaskan dan dengan gigih mempropagandakan atau mengkampanyekan sistem pemerintahan khilafah seraya menolak bahkan mengecam sistem demokrasi yang dikatakannya sebagai metode buatan manusia yang sesat dan menyesatkan, karena menganut sekularisme dan menghamba materialisme. Pengaruh pemikirannya sampai di Indonesia sehingga belakangan muncul kelompok muslim garis keras menyebut pemerintahan dengan sistem demokrasi sebagai kafir, toghut, musuh Islam dan sebagainya. Dalam keterangannya, hanya Tuhanlah pemilik hak dan wewenang untuk membuat peraturan serta perundang-undangan bagi manusia di jagat raya ini, dengan mendasarkan dalil Alquran.
“...keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah...”
Yusuf 40
Padahal pandangan tersebut tanpa disadari secara langsung atau tidak langsung sesungguhnya telah mengabaikan sabda Nabi saw yang artinya “kalian lebih mengetahui dengan urusan duniamu”. Karena mengelola kehidupan masyarakat dalam tatanan negara termasuk urusan dunia.
Pada umumnya sistem khilafah secara garis besar berpijak pada satu ayat Alquran sebagai landasan utama pemikirannya, yang artinya: “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.
al-Maidah 45.
Dari ayat tersebut logika yang dibangun kemudian adalah hanya ulama yang mumpuni dalam ilmu agamalah yang mengetahui “apa yang diturunkan Allah” sebagaimana dimaksud dalam ayat tersebut. Sehingga dengan demikian pemimpin tertinggi sebuah negara harus dipegang oleh seorang ulama. Jika diikuti alur logika tersebut, maka arahnya semakin mengerucut (jelas), khususnya di Indonesia, bahwa pemimpin tertinggi dalam sistem khilafah yang dianggap paling sahih dan otoritatif tak lain hanyalah etnis Arab (habib), utamanya yang mengklaim dirinya sebagai keturunan Nabi saw.
Semenjak Indonesia bebas dari belenggu rezim tirani presiden Soeharto lalu memasuki fase transisi menuju demokrasi di satu sisi, ideologi khilafah hampir tidak mendapatkan tempat untuk berkembang dan mewujudkan impiannya. Namun di sisi lain, dalam iklim demokrasi pula mereka seakan menemukan ruang bebas untuk mengkampanyekan ideologi tersebut melalui dakwah terselubung dengan agenda politik. Sehingga banyak ustad “kampung” Jakarta yang termakan propaganda tersebut lalu ikut menyebarkannya kepada umat tingkat akar rumput dengan jargon buatan sendiri yang berbunyi “kitab suci di atas konstitusi”. Alam pikiran masyarakat akar rumput yang sudah terpapar indoktrinasi dengan mudah berubah menjadi sebuah orkestrasi gerakan politisasi agama seperti yang terjadi pada musim Pilkada DKI Jakarta periode lalu, sehingga terjadi polarisasi dan membelah masyarakat secara tajam, mengikuti kedua kubu pasangan calon gubernur Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil AHOK. Dalam perkembangannya, sistem demokrasi semakin jamak digunakan oleh dan dipraktikkan di banyak negara pasca Perang Dunia II. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa demokrasi mengglobal? Jawabnya adalah karena inilah temuan sekaligus merupakan karya besar manusia yang dinilai paling sedikit menistakan kemanusiaan. Namun demikian, sebagian ahli dan pemikir dari kalangan umat muslim alih-alih berminat dan berniat untuk menggali nilai dan spirit demokrasi dalam Islam, malah masih berkutat dan memaksakan ideologi khilafah, khususnya di Indonesia, karena dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman, seraya mengecam demokrasi. Padahal bila diteliti dan ditelisik lebih jauh, sistem dan semangat demokrasi telah ada dan dikenal justru malah sebelum nabi Adam as diciptakan sebagaimana diriwayatkan dalam kitab suci Alquran. Nampak dalam dialog tersebut Tuhan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada makhlukNya untuk menyatakan pendapat dan berekspresi sambil menghargai dengan cara melayani dan menanggapi atau menjawab apa yang disampaikan hambaNya.
Islam dan Demokrasi
Prinsip utama demokrasi adalah penghormatan terhadap kebebasan individu meliputi hak hidup, hak menyatakan pendapat dan berekspresi. Dari perspektif tersebut, dapat disimak beberapa kutipan dialog monumental berikut yang mengisyaratkan sekaligus sebagai bahan kajian tentang nilai dan spirit demokrasi yang terkandung dalam Alquran.
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku Pencipta (manusia) di bumi sebagai khalifah". Malaikat berkata: "Apakah Engkau ciptakan makhluk yang akan merusak dan menumpahkan darah (sesamanya) di muka bumi, sementara kami senantiasa bertasbih dengan pujianMu dan menyucikanMu?".(Tuhan menjawab): "Sesungguhnya Aku lebih mengetahui segala yang tidak kalian ketahui". Kemudian dialog antara Tuhan dan iblis itu berlanjut.
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah"
Al-A'raf 12
Mendengar keterangan demikian, dialog masih berlanjut.
Iblis berkata (memohon kepada Tuhan): "Berilah aku kesempatan hingga hari kebangkitan kelak"
Al-A'raf 14
Dan seperti diketahui, pada ujung dialog Tuhan pun mengabulkan permohonan Iblis. Tak hanya itu, sifat dan sikap demokratis Tuhan itu lagi-lagi ditunjukkan dalam sebuah dialog dengan Nabi Ibrahim as. Bahkan nabi Ibrahim as dapat dibilang terlalu "lancang” karena telah berani “mengkritisi" atau “mempertanyakan” eksistensi dan atau kekuasaan Tuhan. Namun alih-alih murka, Tuhan malah dengan “telaten” dan “murah hati” memperlihatkan buktinya.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "(Bukan begitu, Tuhan). Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap kokoh (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Al Baqarah 260
Terakhir nilai dan spirit demokrasi itu juga dipraktikkan nabi Ibrahim as sebagaimana diriwayatkan dalam Alquran yang monumental karena kemudian menjadi dasar perintah ibadah kurban itu. Diriwayatkan, pada suatu saat Ibrahim as hendak melaksanakan mimpi benarnya untuk menyembelih Ismail as, anaknya sendiri yang amat disayanginya. Sekalipun ia yakin bahwa mimpinya itu merupakan perintah dari Tuhan untuk dilaksanakan, namun ia tetap terlebih dahulu bertanya kepada anaknya untuk mendengarkan dan meminta pendapatnya.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur bertanggung jawab) berusaha bersama nabi Ibrahim, Ibrahim pun berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku telah melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?". Ia menjawab: "Aduhai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah ayah akan mendapatkan aku termasuk orang-orang bersabar".
As-Saaffat 102
Jadi, kandungan nilai dan spirit demokrasi itu, baik tersurat maupun tersirat, sesungguhnya cukup berserak dalam Alquran. Selama berabad-abad bahkan di kalangan ulama besar Timur Tengah, jika berbicara tentang sistem demokrasi dalam Islam, para ulama selalu dan hanya mengacu pada Alquran surat as-Syura 3
…sedang urusan mereka (didasarkan pada) musyawarah antara mereka..
Ayat tersebut sesungguhnya lebih merujuk pada implementasi dan praktik sistem demokrasi. Sebagai contoh, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah merupakan hasil final dari kesepakatan (musyawarah dan mufakat) di antara seluruh pemangku kepentingan yang mewakili segenap komponen bangsa Indonesia sebagai negara kebangsaan. Mengubah kesepakatan itu sama saja artinya melanggar ajaran yang terkandung dalam ayat tersebut.
Tuhan Maha Demokratis
Jika sejauh ini dalam penelitian para ulama terdahulu telah berhasil menyusun kompilasi sifat-sifat Tuhan yang utama sebanyak 99, yang dikenal sebagai asmaul husna, maka dari paparan dalam tulisan ini nyatalah bahwa kompilasi asmaul husna itu dapat digenapkan menjadi 100, sebuah angka sakral yang menggambarkan keparipurnaan. Untuk sekadar catatan bahwa dari hasil kompilasi para ulama terdahulu sifat-sifat Tuhan itu sesungguhnya mencapai hingga ratusan ribu jumlahnya. Hanya saja, tidak diketahui dari sekian banyak sifat Tuhan tersebut apakah salah satu di antaranya terdapat sifat Tuhan Maha Demokratis. Jika tidak ada, maka benarlah temuan Mohammed Arkoun, guru besar ilmu sejarah di Universitas Sorbone, Paris, Prancis, yang menyebutkan bahwa para ulama pada zaman keemasan dunia Islam dahulu, dalam kegiatan penelitian sesungguhnya telah mengalami apa yang disebut sebagai “bias (rentang) waktu dan politik”. Akibatnya, cukup banyak (juga) hasil penelitian mereka karena pengaruh kondisi lingkungan, sosial dan budaya pada puluhan abad silam bisa jadi tidak relevan (lagi) dengan perkembangan kondisi saat ini. Dari pengaruh sealiran pemikiran Arkoun itu pula di Indonesia pernah muncul gagasan untuk melakukan reinterpretasi dan reaktualisasi Alquran yang diprakarsai oleh KH Munawir Sadzali, Menteri Agama era Orde Baru, namun entah mengapa rupanya gayung kurang bersambut di kalangan cendekiawan muslim dan ulama, sehingga ide itu layu sebelum berkembang.
Maret 19, 2021
Filsafat Penderitaan di Dunia
Mengapa saya (yang harus) tertimpa nasib malang?
Mengapa saya (yang harus) terkena dampak Covid-19?
Dalam kondisi pandemi covid-19 sekarang ini, orang yang terdampak langsung, dan mengalami penderitaan yang berat, seringkali bertanya “Kenapa harus saya?”. Pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan eksistensial dan esensial yang sudah muncul dalam teks-teks keagamaan sejak ribuan tahun lalu. Salah seorang pemikir kontemporer yang menggali jawaban atas pertanyaan semacam itu adalah Harold Kushner, seorang teolog dan rabbi Yahudi terkemuka, dalam bukunya “When Bad Thing Happen to Good People”. Sementara sejauh ini belum ada dan belum muncul ulama dari kalangan umat muslim yang secara khusus meneliti dan mendalami untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Buku tersebut bukan buku yang terbit di masa pandemi covid-19, tapi merupakan sebuah buku klasik tentang teologi penderitaan yang terbit awal tahun 1981 dan peredarannya mendunia, sehingga menjadi buku yang terkenal dan terus dibaca sampai hari ini. Telaahnya univeral dan mampu memberikan inspirasi serta kekuatan rohani secara nalar sehat dalam menghadapi kehidupan dunia yang memang tidak mudah dipahami ini.
Buku ini merefleksikan isu-isu teologis-filosofis secara populer, mengenai pertanyaan spesifik: “Mengapa orang baik-baik menderita?” dan sebaliknya "orang jahat hidupnya malah enak dan penuh suka cita". Penderitaan orang-orang yang baik ini bukan hanya merupakan masalah bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga bisa merupakan masalah bagi orang yang merindukan teriptanya sebuah dunia yang adil, yang layak untuk dihuni. Masalah penderitaan ini tidak hanya fisik, sosial, ekonomi, tapi bisa sampai pada persoalan teologis-filosofis tentang keadilan Tuhan, dengan kasih-sayang-Nya, bahkan juga menyangkut perdebatan mengenai keberadaan Tuhan itu sendiri. Banyak orang yang menghadapi penderitaan yang berat, memilih untuk menjadi ateis setelah meragukan adanya kebaikan dan kasih sayang Tuhan.
Dalam kondisi pandemi covid-19 sekarang ini, orang yang terdampak langsung, dan mengalami penderitaan yang berat, seringkali bertanya “Kenapa harus saya?”. Pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan eksistensial dan esensial yang sudah muncul dalam teks-teks keagamaan sejak ribuan tahun lalu. Salah seorang pemikir kontemporer yang menggali jawaban atas pertanyaan semacam itu adalah Harold Kushner, seorang teolog dan rabbi Yahudi terkemuka, dalam bukunya “When Bad Thing Happen to Good People”. Sementara sejauh ini belum ada dan belum muncul ulama dari kalangan umat muslim yang secara khusus meneliti dan mendalami untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Buku tersebut bukan buku yang terbit di masa pandemi covid-19, tapi merupakan sebuah buku klasik tentang teologi penderitaan yang terbit awal tahun 1981 dan peredarannya mendunia, sehingga menjadi buku yang terkenal dan terus dibaca sampai hari ini. Telaahnya univeral dan mampu memberikan inspirasi serta kekuatan rohani secara nalar sehat dalam menghadapi kehidupan dunia yang memang tidak mudah dipahami ini.
Buku ini merefleksikan isu-isu teologis-filosofis secara populer, mengenai pertanyaan spesifik: “Mengapa orang baik-baik menderita?” dan sebaliknya "orang jahat hidupnya malah enak dan penuh suka cita". Penderitaan orang-orang yang baik ini bukan hanya merupakan masalah bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga bisa merupakan masalah bagi orang yang merindukan teriptanya sebuah dunia yang adil, yang layak untuk dihuni. Masalah penderitaan ini tidak hanya fisik, sosial, ekonomi, tapi bisa sampai pada persoalan teologis-filosofis tentang keadilan Tuhan, dengan kasih-sayang-Nya, bahkan juga menyangkut perdebatan mengenai keberadaan Tuhan itu sendiri. Banyak orang yang menghadapi penderitaan yang berat, memilih untuk menjadi ateis setelah meragukan adanya kebaikan dan kasih sayang Tuhan.
Menurut Kushner, orang beragama pasti dan selalu mencita-citakan seraya meyakini kalau hidup ini penuh dengan keadilan. Tuhan memberi kepada umat-Nya apa saja yang memang diperlukan. Tetapi dalam kenyataan seringkali kita melihat adanya orang-orang yang kecewa dan putus asa karena harapannya tidak tercapai dan terwujud, atau doanya tak kunjung dipenuhi-Nya. Ada orang-orang yang meninggal, padahal semestinya tidak meninggal, ada yang sakit, yang menderita secara sosial-ekonomi, dan seterusnya. Ada orang yang bangkrut secara ekonomi, ada orang yang kehilangan pekerjaan, dan seterusnya. Orang beragama biasanya diajarkan mengenai adanya Kebaikan Ilahi. Tetapi setiap hari kita membaca berita, atau keadaan yang kelihatannya menggugat Kebaikan Ilahi itu, seperti kondisi akibat pandemi covid-19 yang melanda di seluruh dunia. Atau mati dan hidup sengsara menjadi korban perang. Dan terlalu banyak kejadian atau peristiwa yang bisa menggugat ide-ide keagamaan mengenai Kebaikan Tuhan. Dalam bukunya Kushner memberikan uraian teologis dalam bahasa yang sederhana, supaya kita bisa tetap mempertahankan iman kita, dan meyakinkan diri kita sendiri, keluarga kita, teman-teman, dan orang lain, bahwa dunia ini baik, dan apapun yang terjadi berasal dari Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
"Mengapa orang baik-baik menderita?" sesungguhnya merupakan pertanyaan yang wajar, bukan untuk meragukan niat para ahli agama atau orang-orang suci yang telah berusaha menjelaskannya seperti yang dipahami da dialami. Tetapi sekadar ingin tahu mengapa banyak orang biasa, yang kita anggap orang baik-baik, harus menanggung penderitaan, yang kadang-kadang berlebihan, dan hampir-hampir tak tertanggungkan. Jika dunia ini adil apakah memang mereka harus menanggung beban yang berat tersebut? Apalagi mereka juga bukan orang yang jahat. Justru ironisnya, ada orang yang jahat atau buruk perilakunya terhadap sesama, tetapi hidupnya kelihatan penuh kemakmuran, kesenangan bahkan “kebahagiaan”. Ketika seseorang mendapatkan kemalangan yang tidak bisa mereka mengerti, menurut Kushner selalu membuat mereka kembali kepada kepercayaan dasar tentang Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Adil, dan Maha Bijaksana sekaligus. Dan tentang dunia yang tertib dan dapat dipahami, mereka kembali kepada kepercayaan dasar teisme sambil kemudian mempersalahkan diri mereka sendiri karena telah berbuat dosa. Mungkin perasaan mereka marah kepada Tuhan, misalnya kenapa saya mengalami penderitaan akibat dari sesuatu di luar dirinya. Tetapi ekspresi kemarahan seperti itu hanya akan membuat mereka lebih khawatir, kalau Allah akan menimpakan kemalangan yang lebih oedih dan dahsyat. Karena itu ia memilih bersikap untuk mempersalahkan dirinya sendiri daripada mempersalahkan Tuhan. Harold Kushner menyebut “Hidup telah melukai mereka, sedangkan agama tidak mampu memberikan penghiburan. Agama malah membuat mereka “lebih bersusah dan bersedih hati atau jiwanya tertekan”. Ia juga menambahkan, “Gagasan bahwa Tuhan memberi orang-orang, apa yang pantas mereka terima, misalnya kelakuan-kelakuan buruk kita mengakibatkan kemalangan kita”, menurut Kushner merupakan pemecahan yang indah dan menarik atas rahasia kemalangan pada berbagai tingkatan, namun ia memiliki sejumlah keterbatasan yang serius. Agama mengajarkan orang agar mempersalahkan diri mereka sendiri. Ia menciptakan rasa bersalah kendatipun tidak ada alasan untuk merasa bersalah. Kushner menguraikan kebiasaan kalangan orang beragama dalam menafsirkan tentang penderitaan, menurutnya seringkali tidak selalu tepat. Dalam membangun teologi penderitaan, misalnya orang beragama sering menganggap penderitaan sebagai “punya maksud pendidikan” atau penderitaan sebagai “ujian atau cobaan” dari Tuhan. Padahal kata Kushner sering kali penderitaan itu menimpa seseorang bisa jadi “tanpa alasan” atau tanpa sebab. Dan yang sering dilupakan oleh orang beragama (seperti kita lihat dalam wacana agama akibat pandem covid-19), tentang peranan hukum alam sebagai “penyebab”).
"Mengapa orang baik-baik menderita?" sesungguhnya merupakan pertanyaan yang wajar, bukan untuk meragukan niat para ahli agama atau orang-orang suci yang telah berusaha menjelaskannya seperti yang dipahami da dialami. Tetapi sekadar ingin tahu mengapa banyak orang biasa, yang kita anggap orang baik-baik, harus menanggung penderitaan, yang kadang-kadang berlebihan, dan hampir-hampir tak tertanggungkan. Jika dunia ini adil apakah memang mereka harus menanggung beban yang berat tersebut? Apalagi mereka juga bukan orang yang jahat. Justru ironisnya, ada orang yang jahat atau buruk perilakunya terhadap sesama, tetapi hidupnya kelihatan penuh kemakmuran, kesenangan bahkan “kebahagiaan”. Ketika seseorang mendapatkan kemalangan yang tidak bisa mereka mengerti, menurut Kushner selalu membuat mereka kembali kepada kepercayaan dasar tentang Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Adil, dan Maha Bijaksana sekaligus. Dan tentang dunia yang tertib dan dapat dipahami, mereka kembali kepada kepercayaan dasar teisme sambil kemudian mempersalahkan diri mereka sendiri karena telah berbuat dosa. Mungkin perasaan mereka marah kepada Tuhan, misalnya kenapa saya mengalami penderitaan akibat dari sesuatu di luar dirinya. Tetapi ekspresi kemarahan seperti itu hanya akan membuat mereka lebih khawatir, kalau Allah akan menimpakan kemalangan yang lebih oedih dan dahsyat. Karena itu ia memilih bersikap untuk mempersalahkan dirinya sendiri daripada mempersalahkan Tuhan. Harold Kushner menyebut “Hidup telah melukai mereka, sedangkan agama tidak mampu memberikan penghiburan. Agama malah membuat mereka “lebih bersusah dan bersedih hati atau jiwanya tertekan”. Ia juga menambahkan, “Gagasan bahwa Tuhan memberi orang-orang, apa yang pantas mereka terima, misalnya kelakuan-kelakuan buruk kita mengakibatkan kemalangan kita”, menurut Kushner merupakan pemecahan yang indah dan menarik atas rahasia kemalangan pada berbagai tingkatan, namun ia memiliki sejumlah keterbatasan yang serius. Agama mengajarkan orang agar mempersalahkan diri mereka sendiri. Ia menciptakan rasa bersalah kendatipun tidak ada alasan untuk merasa bersalah. Kushner menguraikan kebiasaan kalangan orang beragama dalam menafsirkan tentang penderitaan, menurutnya seringkali tidak selalu tepat. Dalam membangun teologi penderitaan, misalnya orang beragama sering menganggap penderitaan sebagai “punya maksud pendidikan” atau penderitaan sebagai “ujian atau cobaan” dari Tuhan. Padahal kata Kushner sering kali penderitaan itu menimpa seseorang bisa jadi “tanpa alasan” atau tanpa sebab. Dan yang sering dilupakan oleh orang beragama (seperti kita lihat dalam wacana agama akibat pandem covid-19), tentang peranan hukum alam sebagai “penyebab”).
Menurut Kushner agama mengajarkan “bagaimana menjadi manusia” (yang bebas) dan “Apa arti menjadi manusia?” (yang bebas) dalam situasi penderitaan. Agama menurut Kushner mengajarkan manusia berbeda dari binatang, justru karena dengan kebebasannya itu manusia bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Tapi menggunakan kebebasan memerlukan cost (biaya) atau mempunyai konsekuensi, yaitu kesalahan dalam penggunaan kebebasan itu, atau malah penyalahgunaan dalam penggunaan kebebasan. Binatang tidak mengerti persoalan-persoalan moral, dan kebebasan antara baik dan buruk. Karena itu panggilan menjadi manusia memang berarti “menjadi lebih manusiawi”. Agama, kata Kushner, mengajarkan agar manusia benar-benar bebas, dan menjadi sungguh manusiawi. Tuhan merelakan kita untuk bebas memilih antara yang baik dan buruk. Kalau manusia tidak bebas memilih yang buruk, maka sebenarnya manusia juga tidak bebas memilih yang baik. Inilah kebebasan moral yang sangat ditekankan pada agama-agama monoteistik, Yahudi, Kristiani dan Islam.
Sadar mengenai harga kebebasan ini, membawa kesadaran bahwa penderitaan bisa bertambah dengan “menyiksa diri”. Kushner mengatakan bahwa “Tidak setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah akibat dari pada ulah manusia.” Menarik untuk ditelaah dan dicermati misalnya, tentang posisi Amerika Serikat sebagai negara pengekspor senjata terbesar di dunia di antara negara-negara adikuasa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk memasarkan industri persenjataan militer tersebut kerapkali negeri paman Sam itu terlibat atau melibatkan diri dalam berbagai konflik, yang tak jarang justru diciptakan oleh Amerika Serikat, yang berujung perang di suatu negara. Dan setelah berkecamuk perang saudara dan saling membunuh dan menyengsarakan antar sesama rakyat, seperti di Libia dan kawasan Timur Tengah, tinggalah Amerika "berlenggang kangkung" menguasai ladang minyaknya yang melimpah. Namun di luar itu sering kali ada juga peristiwa yang terjadi tanpa ada alasan. Kearifan untuk bisa memberi ruang “misteri” pada sebab penderitaan kadang kala penting juga. Buku ini jauh lebih menarik dari uraian yang abstrak di atas, yang dapat memberi pencerahan mengenai bagaimana kita bisa mengerti tentang makna penderitaan secara mendalam melebihi wacana-wacana yang mungkin pernah kita baca, khususnya di media sosial. Dan begitu banyak orang telah tercerahkan dengan pikiran-pikiran Kushner walaupun penulisnya seorang Rabbi Yahudi, banyak orang non-Yahudi yang telah berterima kasih pada Kushner, karena kecerahan pemikiran dan pencerahannya.
Disadur dari resensi buku tulisan Budhi-Munawar Rahman, dosen STIF Driyarkara.
Sadar mengenai harga kebebasan ini, membawa kesadaran bahwa penderitaan bisa bertambah dengan “menyiksa diri”. Kushner mengatakan bahwa “Tidak setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah akibat dari pada ulah manusia.” Menarik untuk ditelaah dan dicermati misalnya, tentang posisi Amerika Serikat sebagai negara pengekspor senjata terbesar di dunia di antara negara-negara adikuasa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk memasarkan industri persenjataan militer tersebut kerapkali negeri paman Sam itu terlibat atau melibatkan diri dalam berbagai konflik, yang tak jarang justru diciptakan oleh Amerika Serikat, yang berujung perang di suatu negara. Dan setelah berkecamuk perang saudara dan saling membunuh dan menyengsarakan antar sesama rakyat, seperti di Libia dan kawasan Timur Tengah, tinggalah Amerika "berlenggang kangkung" menguasai ladang minyaknya yang melimpah. Namun di luar itu sering kali ada juga peristiwa yang terjadi tanpa ada alasan. Kearifan untuk bisa memberi ruang “misteri” pada sebab penderitaan kadang kala penting juga. Buku ini jauh lebih menarik dari uraian yang abstrak di atas, yang dapat memberi pencerahan mengenai bagaimana kita bisa mengerti tentang makna penderitaan secara mendalam melebihi wacana-wacana yang mungkin pernah kita baca, khususnya di media sosial. Dan begitu banyak orang telah tercerahkan dengan pikiran-pikiran Kushner walaupun penulisnya seorang Rabbi Yahudi, banyak orang non-Yahudi yang telah berterima kasih pada Kushner, karena kecerahan pemikiran dan pencerahannya.
Disadur dari resensi buku tulisan Budhi-Munawar Rahman, dosen STIF Driyarkara.
Oktober 12, 2020
Hukum Mengadakan dan Menghadiri Acara Tahlilan
Menjaga keseimbangan
Pembahasan mengenai hukum sebuah acara tahlilan ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) hukum mengenai mengadakan atau menyelenggarakan tahlilan, dan (2) hukum tentang menghadiri acara tahlilan. Sebelum membahas lebih lanjut tentang acara tahlilan, lebih dahulu perlu diketahui tentang makna 'tahlilan' itu sendiri. Tahlilan merupakan kata bentukan (kata kerja yang dibendakan) dari akar kata 'tahlil'. Secara etimologi (bahasa), kata 'tahlil' berarti membaca kalimah tauhid, yakni 'laa ilaaha ill Allah' yang artinya 'tiada tuhan (zat yang patut disembah atau mengabdikan diri)selain Allah'. Sedangkan secara
Oktober 07, 2020
Salat Dhuha untuk Membuka Pintu Rezeki, Benarkah?
Kucing mata duitan
Diriwayatkan dari seorang generasi tabi’in yang banyak bergaul dengan para sahabat Nabi saw pernah ditanya tentang surat Alquran apakah yang paling sering membuat para sahabat menangis. Ia menjawab surat Hud. Kemudian ia ditanya lagi, ayat berapakah
Agustus 22, 2020
Beda Paradigma dalam Kebenaran
Hakikat Kebenaran
Dalam Islam pesan agar senantiasa berusaha dan berjuang untuk menegakkan kebenaran tertuang dalam Alquran.
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ...
...serta nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran
Al-Ashr 3
Hanya saja apa itu kebenaran (dan kebaikan) secara spesifik tidak didefinisikan dalam Alquran. Kecuali gambaran secara implisit dan simbolik sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Fatihah dengan istilah "jalan lurus".
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
Al-Fatihah 6
Namun secara global dan dogma, Alquran sebagai wahyu dari Allah swt yang diturunkan melalui rasulNya, Muhammad saw, mengandung dan membawa pesan tentang kebenaran dan kebaikan. Hanya Nabi saw yang mengetahui hakikat kebenaran dan kebaikan sebagaimana dikehendaki Allah swt. Oleh karena itu, sepeninggal Nabi saw timbul berbagai macam perbedaan dalam pemahaman, bahkan kadang bertentangan secara diametral antara satu pemahahaman dan pemahaman lain, baik pada Alquran maupun sunnah Nabi saw sendiri yang fungsinya sebagai penjelas wahyu Alquran.
Selain melalui wahyu Ilahi, untuk mencari dan menemukan hakikat kebenaran manusia melalui jalur pemikiran dengan menggunakan kemampuan akal pikiran yang dikenal dengan metode filsafat. Bedanya, jalur wahyu dimulai atau diawali dengan percaya lebih dahulu, kemudian mencari bukti. Meskipun jalur wahyu terbuka juga kemungkinan untuk bertolak dari sikap tidak percaya (agnostik), sebagaimana diriwayatkan dalam Alquran QS 2:260 tentang dialog nabi Ibrahim as dan Tuhan. Sementara metode filsafat menghendaki didahului dengan tidak percaya, kemudian mencari bukti.
Perbedaan paradigma dan prinsip terhadap kebenaran antara Islam dan non Islam
Right or wrong my country adalah sebuah ungkapan sebagai semboyan yang terkenal dari Lord Palmerston pada abad XIX dari Inggris yang artinya benar atau salah adalah negara saya. Negara harus selalu dibela. Pemahaman dan spirit atau semangat untuk menegakkan kebenaran yang mewakili dunia nonmuslim itu boleh dikatakan jauh berbeda bahkan bertolak belakang bila dibandingkan dengan ajaran Islam. Hal itu dapat ditunjukkan dalam kisah nabi Ibrahim as ketika menghancurkan patung-patung berhala di sekeliling ka'bah dalam menegakkan ajaran tauhid atau monotheisme atau keesaan Tuhan, meskipun harus bertentangan dan berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Begitu pula yang dilakukan Nabi saw dalam menyampaikan dakwah dan menegakkan kalimah Allah swt, meskipun harus bertentangan dan berhadapan dengan pamannya, Abu Lahab. Namun kemudian Islam mengatur bagaimana sikap anak kepada orang tua yang mengajak kepada kemusyrikan dan jalan kesesatan.
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَاوَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًاوَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ
فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan
Luqman 15
Kendati demikian, dalam dunia hukum dikenal sebuah adagium berasal dari dunia nonmuslim yang senafas dengan ajaran Islam berbunyi Fiat Justitia Ruat Caelum dari Lucius Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM) yang bermakna: Keadilan Harus Ditegakkan Meskipun Langit Akan Runtuh.
Juni 15, 2020
Siapa yang Menghina Islam?!
Anjing pintar itu tahu batas suci tempat ibadah, sehingga dia memilih duduk di tapal batas
SIAPA YANG MENGHINA ISLAM... ?!
"Yang menghina agamamu tidak bisa merusak agamamu, yang bisa merusak agamamu justru prilakumu yang bertentangan dg ajaran agamamu." (KH.Ahmad Mustofa Bisri).
Seringkali saya menemukan orang2 yang disebut ulama, ustad, da’i, dosen, dan bahkan professor perguruan tinggi Islam yg katanya membela Islam tapi dalam sikap, perkataan, dan tindakan
Juni 02, 2020
Tuhan Tidak Hanya Memberi Petunjuk, Tetapi Juga (Bisa) Menyesatkan
Sumber: https://www.idntimes.com
Ngetril dan jurang kali
Dalam rukun iman yang keenam adalah percaya pada takdir (qadar) dan qadha. Tentang takdir dan qadha tersebut telah dikupas dan dibahas secara mendalam sejak zaman mutakallimun yang kadang ‘nampak’ seperti penuh ‘kontradiksi dan membingungkan’, sehingga kemudian melahirkan dua golongan paham yang berbeda secara diametral, yakni
Mei 09, 2020
Cara Meraih Kebahagiaan di Akhirat
Pada abad-abad lalu, kebanyakan para ulama mengajarkan bahwa konsep amar ma'ruf, seperti melaksanakan salat dan ibadah karena mengharapkan pahala sebagai bekal umtuk masuk ke dalam sorga. Sedangkan konsep nahi munkar didasarkan karena takut masuk ke neraka. Pemahaman tersebut dalam ilmu manajemen sumber daya manusia dikenal sebagai pendekatan reward and punishment dalam rangka untuk menegakkan disiplin. Namun
April 11, 2020
Mengungkap Rahasia Hubungan Jin dan Manusia
Beratus bahkan mungkin ribuan sudah tulisan yang membahas tentang makhluk yang terembunyi atau biasa disebut makhluk halus bernama jin, di samping malaikat dan iblis atau setan. Prof Quraish Shihab secara khusus menulis yang diterbitkan dalam tiga seri buku membahas tentang malaikat, jin, dan setan (iblis). Secara garis besar dapat dicatat
April 09, 2020
Benarkah Seikh Siti Jenar Sesat?
Pertama-tama dan paling utama satu hal yang perlu diluruskan adalah tentang teknik penulisan sejarah. Dalam banyak kasus, penulisan sejarah dilakukan oleh pihak penguasa, sehingga narasinya kerapkali cenderung subjektif, dipenuhi prasangka dan bias penguasa. Atau setidaknya karena kesalahan dalam berpikir dan menilai
April 05, 2020
Perangkap Taklid dan Islamisme
Emang jago beneran
Latar Belakang
Sesudah zaman keemasan dunia muslim yang berlangsung begitu singkat, bahkan sebelum masa itu sendiri berlalu, ditandai dengan insiden pembunuhan khalifah Utsman ra, fitnah besar pun terjadi. Umat muslim tercabik-cabik dan terseret ke dalam pusaran berbagai aliran dan sekte. Sekalipun hal tersebut sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan jika merujuk pada sabda Nabi saw yang menyebutkan bahwa umat pengikut beliau kelak akan terpecah menjadi 73 golongan. Tiap aliran dan sekte mengklaim bahwa hanya dirinyalah yang mewakili Islam yang "benar", dan bukan golongan lain. Setelah itu perlahan tapi pasti, melalui proses sejarah yang panjang muncullah aliran ortodoks besar, seperti Sunni, Syiah dan Khawarij, melalui program pengumpulan dan penyusunan buku-buku hadis yang dikenal dengan al-shihah, yaitu buku-buku yang khusus memuat hadis-hadis sahih. Ketiganya muncul setelah dan sepanjang pertikaian dan perang saudara yang timbul dan dicatat dalam sejarah peradaban Islam sesudahnya. Dari catatan fakta sejarah tersebut satu hal dapat disimpulkan atau dipastikan bahwa episentrum perpecahan umat muslim adalah masalah sosial-politik, bukan soal ritual keagamaan. Berbeda dengan hal-hal ritual yang bersifat statis dan sudah baku, sebaliknya bidang muamalah khususnya kondisi sosial-politik merupakan perkara yang bersifat dinamis seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karenanya kemudian, perdebatan panjang hampir sepanjang sejarah muslim di antara para ulama tak lepas dari latar belakang sosial-politik tersebut yang dimanifestasikan dalam kajian theologis. Puncaknya adalah kehadiran Imam Ghozali yang merasa "prihatin" ketika menyaksikan perdebatan atau persisnya pertikaian di kalangan umat muslim yang berlarut dan tak kunjung habis itu. Sehingga ia sampai pada suatu kesimpulan untuk menolak filsafat dalam memahami agama. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, setelah itu dunia muslim asyik dan "tenggelam" dalam kegiatan ibadah ritual demi mengejar dan meraih kebahagiaan akhirat seraya melupakan kehidupan dunia seakan tidak atau kurang memahamai peringatan Alquran berikut.
...وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّـهُ الدَّارَ الْآخِرَةَوَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi
Al-Qasas 77
Perubahan arah pemikiran tersebut menimbulkan dua pengaruh dan dampak sekaligus. Di satu sisi, pelan tapi pasti sejak saat itu dunia muslim mulai mengalami kemunduran. Di sisi lain, dunia Barat mulai mengambil alih peran kepemimpinan di dunia yang telah dipegang kaum muslim selama ratus tahun itu. Guna melerai dan meredam kian sengitnya perdebatan, pertikaian dan perselisihan di kalangan ulama tersebut, maka sejak saat itu para ulama sepakat ditutuplah pintu ijtihad.
Taklid dan Islamisme
Dunia muslim yang telah "dijauhkan" dari pemikiran filsafat seiring dengan ditutupnya pintu ijtihad, maka lengkaplah sudah unsur kelemahan bagi dunia muslim untuk kemudian memasuki zaman kejumudan alias kebekuan dan statis, yang tentu saja memunculkan medan masalah baru yang tak kalah peliknya. Di kalangan internal dunia muslim sendiri, tak terkecuali ulama dan dengan sendirinya berimbas pada umat, keputusan dan sikap anti filsafat dan maklumat para ulama bahwapintu ijtihad telah ditutup telah melahirkan sikap taklid di dunia muslim, yakni mengikuti pendapat orang lain tanpa memahami alasannya yang sikap tersebut sesungguhnya jelas dicela dalam Alquran.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya
Al-Isra 36
Dalam pada itu karena latar belakang dan kepentingan politik, sikap dan iklim taklid tersebut telah dimanfaatkan untuk menggiring dan membangun serta menggerakkan kekuatan (baca: memobilisasi) massa sebagai sarana ampuh untuk meraih kekuasaan dan kepemimpinan, baik kepemimpinan formal maupun informal. Sejauh hal tersebut masih berjalan dalam koridor hukum yang berlaku dan sistem demokrasi, maka cara tersebut dinilai sah-sah saja. Hanya saja, diskursus agama tidak lagi murni semata-mata untuk mencari dan menemukan kebenaran agama, akan tetapi telah disusupi oleh kepentingan dan tujuan lain selain agama itu sendiri. Dalam kenyataannya dapat diamati pada gerakan-gerakan politik selama kurun waktu di mana umat muslim atau setidaknya menurut penilaian dan pandangan tokoh pimpinan muslim tertentu merasa tersingkir atau bahkan tertindas.
Islamisme adalah pemahaman agama (Islam) dalam bentuk tatanan sebuah negara, yaitu negara Islam. Kelompok Islamisme mengidolakan Islam pada zaman Nabi saw di Madinah, dan mereka berupaya untuk mengembalikan praktik berislam pada zaman sekarang untuk kembali seperti praktik berislam pada zaman Nabi saw. Islam zaman Nabi saw di Madinah yang telah diidolakan oleh kelompok Islamisme, hanya dapat dipraktikkan pada zaman Nabi saw. sampai wafatnya. Setelah zaman Nabi saw. berakhir dan digantikan oleh al-Khulafa’ al-Rasyidin, sistem pemerintahan yang persis seperti pada zaman Nabi saw. sudah tidak mungkin dipraktikkan lagi. Alasannya, Nabi Muhammad saw. menjalankan pemerintahannya di Madinah dalam bimbingan wahyu Allah, sedangkan para al-Khulafa’ al-Rasyidin pemerintahannya mesti berijtihad sendiri terhadap setiap masalah yang muncul dan baru, serta belum pernah ada pada zaman Nabi Muhammad saw. Jadi sudah sangat jelas bahwa apa yang diwacanakan oleh kelompok Islamisme yang bercita-cita dan berkeinginan untuk mendirikan negara Islam ala zaman Nabi saw. di Madinah, sangatlah jauh dari jangkauan dan sungguh tidak rasional. Alasan lain bahwa kelompok Islamisme adalah para penganut Islam yang lahir dan hidup di sekitar abad ke-18, jauh sesudah masa Nabi saw (wafat 632 M) berakhir, dan sangat mustahil untuk bisa mempraktikkan Islam persis di zaman Nabi saw.
Asal Usul Jurus Monopoli Kebenaran
Walaupun tak diketahui secara pasti sejak kapan pintu ijtihad ditutup terjadi karena ada anggapan bahwa tidak ada ulama yang memenuhi persyaratan seperti keempat imam itu. Sebaliknya, menurut Abu Zahrah, di kalangan Syi'ah tidak pernah dikenal tertutupnya pintu ijtihad. Sayyid Rasyid Ridha, mengikuti gurunya Syaikh Muhammad Abduh, mengecam penutupan pintu ijtihad yang manapun: "Kita tidak menemukan manfaat apa pun dari penutupan pintu ijtihad". Bahayanya banyak --berakibat pada terbengkalainya akal, terputusnya pengembangan ilmu dan terhalangnya kemajuan pemikiran. Kaum Muslim mengalami kemunduran karena meninggalkan ijtihad sehingga mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. Patut dicatat bahwa dalam sejarah, para penguasa Muslim lebih sering menindas kebebasan pendapat dari pada mengembangkannya. Di samping itu, posisi ulama yang lemah memperkuat fanatisme madzhab. Ulama sangat bergantung kepada umara. Umara tentu saja selalu berusaha mempertahankan status quo, dengan alasan klise "demi ketertiban dan keamanan"
Dalam posisi seperti itu, kalau pun ulama berijtihad, maka ijtthadnya hanyalah dalam rangka memberikan legitimasi pada kebijakan penguasa. Contoh di negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah adalah pernyataan para ulama Rabithah yang mendukung kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab. Empat puluh tiga hari sebelum Saddam menyerbu Kuwait, para ulama dari 70 negara Islam menyatakan bahwa Saddam sebagai mujahid Islam yang taat pada Allah dan Alquran. Setelah invasi, para ulama yang sama menyatakan bahwa Saddam Husein sebagai bughat dan pemimpin zalim. Bukankah ini ijtihad dan setiap ijtihad selalu mendapat pahala? Dan bilamana ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala, dan bila benar mendapat dua pahala. Demikian kata mereka. Tetapi tidak diingat atau mereka lupa bahwa kesalahan berijtihad tersebut telah mengakibatkan dan menelan korban kemanusiaan tak terperikan.
Simak juga:
Perangkap Kultus Individu
Perangkap Kultus Individu
Abd al-Wahhab Khalaf menyebutkan empat faktor yang menyebabkan kemandegan. Yaitu terpecahnya kekuasaan Islam menjadi negara-negara kecil hingga umat disibukkan dengan eksistensi politik; terbaginya para mujtahid berdasarkan madrasah tempat mereka belajar; menyebarnya ulama mutathaffilin (ulama yang memberi fatwa berdasarkan petunjuk Bapak); dan menyebarnya penyakit akhlak seperti hasud dan egoisme di kalangan ulama. Paham Ibn Taymiyah dihidupkan kembali oleh Muhammad ibn Abdal-Wahab lima abad kemudian. Seperti Ibn Taymiyah, ia mencela kaum mutakallim, filsuf dan sufi.
Contoh lain tentang iklim dan budaya taklid dimanfaatkan sebagai sarana memobilisasi massa untuk maksud dan meraih tujuan tertentu.
Front Pembela Islam (FPI), didirikan pada tanggal 17 Agustus 1998 oleh Muhammad Rizieq Shihab(1965). Kebanyakan anggotanya berasal dari ikatan-ikatan pemuda masjid dari penjuru Jakarta dan sejumlah madrasah atau pun pesantren di sekitar Jakarta. Latar belakang mereka umumnya para pemuda pengangguran, termasuk kelompok-kelompok preman. Moto yang diajarkan “hiduplah dengan mulia atau lebih baik mati sebagai syahid”. Dalam tempo singkat, FPI berhasil memperluas jaringannya ke kota-kota di luar Jakarta. Sampai dengan tahun 2004 FPI berhasil mendirikan 18 cabang di tingkat provinsi dan sebanyak 50 perwakilan cabang di tingkat kabupaten dengan puluhan ribu simpatisan di seluruh Indonesia.
Contoh lain tentang iklim dan budaya taklid dimanfaatkan sebagai sarana memobilisasi massa untuk maksud dan meraih tujuan tertentu.
Front Pembela Islam (FPI), didirikan pada tanggal 17 Agustus 1998 oleh Muhammad Rizieq Shihab(1965). Kebanyakan anggotanya berasal dari ikatan-ikatan pemuda masjid dari penjuru Jakarta dan sejumlah madrasah atau pun pesantren di sekitar Jakarta. Latar belakang mereka umumnya para pemuda pengangguran, termasuk kelompok-kelompok preman. Moto yang diajarkan “hiduplah dengan mulia atau lebih baik mati sebagai syahid”. Dalam tempo singkat, FPI berhasil memperluas jaringannya ke kota-kota di luar Jakarta. Sampai dengan tahun 2004 FPI berhasil mendirikan 18 cabang di tingkat provinsi dan sebanyak 50 perwakilan cabang di tingkat kabupaten dengan puluhan ribu simpatisan di seluruh Indonesia.
Maret 24, 2020
Tuhan "Suka" Membuat Kejutan
Dalam beberapa hal atau dapat disebut terkadang Tuhan "suka" membuat surprise atau kejutan sebagaimana dinyatakan dalam Alquran.
...إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka, sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,
Ibrahim 42
Selain hal yang disebutkan pada kelanjutan ayat tersebut di atas, berikut juga merupakan kejutan lain yang sepertinya jarang diperhatikan dan menjadi bahan renungan oleh kaum muslimin dan mukminin.
- Mungkin para penziarah ka'bah khususnya yang datang dari Indonesia dalam rangka melaksanakan ibadah haji atau umrah belum banyak yang mengetahui apa yang ada di Hijir Ismail. Yakni sebuah bangunan dari batu dan keramik setinggi kira-kira 50 sintimeter berbentuk setengah lingkaran yang terletak di salah satu sisi bangunan ka'bah. Menurut Dr Ali Syari'ati, seorang cendekiawan muslim asal Iran, dalam bukunya berjudul "Haji" disebutkan bahwa di Hijir Ismail itu dimakamkan salah seorang istri Rasulullah saw bernama Hindun. Beliau seorang janda yang sudah berumur, bekas hamba sahaya berkulit hitam berasal dari Abesinia, sebuah negara di benua hitam Afrika. Di sini Tuhan menunjukkan sebuah kejutan. Jika seorang raja atau penguasa dari golongan manusia pada umumnya menunjukkan kekuasaan dan kewibawaannya dengan cara membangun istana yang megah dengan sederet perempuan cantik jelita dan muda belia sebagai pendamping atau permaisurinya. Maka di ka'bah sebagai baitullah atau rumah Allah Yang Maha Kuasa, Tuhan justru sebaliknya menunjukkan kesederhanaan dan kebersahajaan. Sebagaimana dapat disaksikan bahwa ka'bah hanyalah sebuah bangunan sederhana terbuat dari batu dengan tampilan apa adanya, sementara di sampingnya dikuburkan seorang perempuan telah berumur yang dijuluki ummul mukminin, berasal dari negeri lain sebagai "penunggu" atau pendampingNya. Dan bukan pula Khatijah istri pertama Nabi saw yang kaya raya dan telah banyak berjasa dalam perjuangan beliau membangun masyarakat yang berakhlak mulia berdasarkan ketauhidan itu.
- Masih segar dalam perhatian dan perbincangan di tengah kesibukan negara-negara di dunia ketika artikel ini ditulis terkait merebaknya wabah virus covid-19 atau dikenal dengan virus corona yang berawal dari negeri tirai bambu, China. Dalam waktu singkat kurang dari dua bulan pandemi virus corona yang sangat mematikan itu telah menyebar ke banyak negara di benua Asia, benua Eropa dan benua Amerika.
Dari peristiwa besar yang mendunia dan belum pernah terjadi sebelumnya itu setidaknya menyisakan penanda dan pengingat yang patut dicatat serta direnungkan. Selain karena erat kaitannya dengan berjangkitnya wabah tersebut juga lagi-lagi Tuhan menunjukkan kejutan sebagaimana termaktub dalam Alquran dan melalui sabda Nabi saw berikut.
إِنَّ اللَّـهَ لَا يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَافَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْوَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّـهُ بِهَـٰذَا مَثَلًايُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًاوَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
Al-Baqarah 26
- Kebenaran ayat tersebut semakin lengkap dengan adanya sabda Nabi saw dalam sebuah Hadist berikut.
اطلب العلم ولو بالصين
Tuntutlah ilmu walaupun (harus) sampai ke negeri China
Khusus dalam dunia politik di Indonesia, utamanya hampir sepanjang musim kampanye Pilpres 2018-2019 nama negara China menjadi bulan-bulanan dan bahan amunisi bagi kubu serta pendukung capres-cawapres Prabowo-Sandi untuk menyerang kubu capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin. Tanpa disadari bertolak belakang bahwa karena demi kepentingan politik para pengusung dan pendukung Prabowo-Sandi yang kebanyakan dan menonjol adalah dari kalangan umat muslim itu telah memandang sebelah mata dan meremehkan bahkan merendahkan harkat serta martabat China, sementara Nabi saw sendiri mengapresiasi dan menghargainya.
Melalui peristiwa tersebut China telah berhasil memetik hikmah di balik musibah dengan menunjukkan jati dirinya, antara lain dengan kecepatan dan kesigapannya dalam mengambil langkah dan tindakan melawan wabah tersebut dalam waktu relatif singkat, lalu membangun rumah sakit dengan fasilitas ribuan tempat tidur khusus untuk menangani wabah corona tersebut bak nabi Sulaiman as membangun istana melalui bantuan jin. Dan tak kalah penting adalah kemampuan China menemukan dan membuat obat virus corona yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Tuhan telah membuat dunia khususnya kaum muslim Indonesia yang selama ini mencemoohkannya sebuah kejutan yang mau tak mau harus diakui faktanya dan direnungkan tentang rahasia hikmah di baliknya.
Maret 20, 2020
Ketika Manusia Menggugat Tuhan
Tulisan ini dimaksudkan sebagai tanggapan atas artikel yang diturunkan penulisnya, Muhammad Fajar Siddiq, dengan judul Tuhan, Aku Tidak Pernah Ingin Menjadi Manusia!" di media kompasiana tertanggal 22 Februari 2020. Menyimak alinea demi alinea mulai dari judul hingga introduksi bahkan lebih jauh mendekati separoh dari isi artikel, selain menarik juga memakau --karena topik yang diangkat terbilang cukup imaginatif, genuin, dan kontroversial-- sungguh
Februari 03, 2020
UAS Ditanya, Tidak Mau atau Tidak Mampu Menjawab?
"Pertinyiinnyi", kata Tukul Arwana (baca: Pertanyaannya): "Kenapa Alquran dimulai (bukan "dumulai") dengan surah Al Fatihah?", atau pertanyaannya dapat diganti: "Kenapa surat Al-Alaq (di sana ada ayat pertama kali diturunkan) tidak ditempatkan di awal Alquran?". Dalam video di atas tampaknya Ustad Abdul Somad (UAS) sengaja tidak memberikan jawaban yang bagi publik penontonnya bisa memunculkan pertanyaan baru
Januari 02, 2020
Cara Menolong Allah swt
Dahsyatnya Rentang Waktu
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa masa hidup manusia pertama Adam as selama menetap di bumi adalah pada sekitar tahun 5.ooo SM. Jika dibandingkan dengan umur alam semesta yang jutaan tahun, sesungguhnya eksistensi manusia di muka
Desember 12, 2019
Benarkah Tuhan Memberikan yang Terbaik?
Dalam pembicaraan sehari-hari atau dalam acara ceramah agama seringkali kita mendengar ungkapan dan nasihat terutama ditujukan kepada mereka yang sedang tertimpa kesedihan atau musibah bahwa Tuhan pasti memberikan sesuatu yang terbaik kepada umatNya. Baik dalam pengertian apa yang baik atau menyenangkan maupun apa yang buruk dalam arti apa yang tidak
Desember 02, 2019
Sejarah Lahirnya Theologi Islam
POKOK PIKIRAN
Theologi Islam atau secara umum pemikiran theologi awalnya lahir sebagai problem politik. Dengan kata lain, pemikiran theologi dimulai dari pengalaman empiris, bahkan dalam soal-soal praktis. Karena pada dasarnya masyarakat Arab pada waktu itu sudah mengenal tuhan, meskipun mereka mempersekutukan dengan tuhan lain. Sementara dalam
November 25, 2019
Pemahaman Akhlak Nabi saw Ditinjau Kembali
قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّ
Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit (Hadis riwayat Baihaqi).
Fakta adalah sebuah kebenaran dalam arti nyata adanya dan bukan fiksi atau karangan. Mengatakan fakta bukanlah suatu perbuatan dosa, bahkan dalam kondisi tertentu dianjurkan sebagaimana nasihat dalam hadis tersebut.
Mengatakan bahwa bung Karno yang berperan penting
November 17, 2019
Kuasakah Tuhan Menciptakan Tuhan?
Artikel ini bermula dan terinspirasi sekaligus memberikan apresiasi sebuah status di facebook berikut, dalam upayanya untuk menjelaskan persoalan agama melalui dalil aqly atau menggunakan nalar bukan dogma atau naqly.
Kepalang tanggung menggunakan jalan akal, maka dengan kemampuan daya nalar pula tulisan ini ingin menjawab dan menjelaskan pertanyaan yang sangat kritis
November 11, 2019
Renungan Maulid Nabi: Reinterpretasi dan Reaktualisasi Pemahaman
Berbicara mengenai akhlak atau budi pekerti Nabi saw, maka autentitas keluhuran atau keagungan akhlak Nabi saw sesungguhnya tidak dapat diragukan lagi, karena Allah swt sendiri yang mengisbatkan hal tersebut.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Al-Qalam 4
Sehingga olah karenanya kemudian Tuhan
Langganan:
Postingan (Atom)